Lebak, tirasbanten.id – Puluhan siswa madrasah di Desa Kujangsari, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, belajar mengolah limbah menjadi karya kreatif melalui program Upcycling yang diselenggarakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14, Jumat (24/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu cara mengenalkan pentingnya pengelolaan sampah sekaligus mendorong kreativitas anak sejak usia dini.
Program yang diikuti siswa kelas 4, 5, dan 6 tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Tidak hanya menerima materi di dalam kelas, para siswa juga diajak mempraktekkan secara langsung cara memanfaatkan barang bekas menjadi karya yang memiliki nilai guna. Suasana pembelajaran berlangsung aktif karena setiap siswa diberi kesempatan menuangkan ide dan kreativitasnya melalui hasil karya masing-masing.
Bagi sebagian siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman baru. Barang-barang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah ternyata dapat diubah menjadi kerajinan yang menarik dan bermanfaat. Melalui pendekatan belajar berbasis praktik, siswa juga diajak memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar mereka.
Salah seorang siswa kelas 4, Apan, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.
“Saya senang karena belajarnya tidak hanya dari buku. Kami bisa langsung membuat kerajinan dari barang bekas bersama teman-teman,” ujar Apan.
Mahasiswa KKN Kelompok 14 yang menjadi pemateri, Raditya Pangestu, mengatakan antusiasme para siswa menjadi motivasi tersendiri selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dan aktif mengikuti setiap tahapan pembuatan karya.
“Saya sangat senang bisa mengajarkan anak-anak madrasah mengolah limbah menjadi barang yang bermanfaat. Antusiasme mereka luar biasa, aktif bertanya, dan bersemangat ketika membuat karya dari barang bekas,” kata Raditya.
Ia berharap pengalaman sederhana tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan positif dalam memanfaatkan limbah rumah tangga serta menginspirasi anak-anak untuk terus berkreasi.
Ketua KKN Kelompok 14, Ahmad Faiq Al-Alawi, menjelaskan bahwa program Upcycling merupakan salah satu bentuk edukasi lingkungan yang dikemas secara kreatif agar mudah dipahami oleh anak-anak.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah. Dengan kreativitas, barang bekas dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun jiwa kewirausahaan sejak dini,” ujarnya.
Melalui program Upcycling, KKN Kelompok 14 berharap pembelajaran tentang lingkungan tidak berhenti di ruang kelas. Kreativitas yang tumbuh dari tangan-tangan kecil para siswa diharapkan menjadi awal terbentuknya generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan, berani berinovasi, dan mampu melihat peluang dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. (Atala/Red)
