Oleh: Ahmad Subhan
Di tengah riuk-pikuk peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang dirayakan dengan panjat pinang, kibaran bendera merah putih, dan pesta rakyat di mana-mana, ada satu pertanyaan mendasar yang terus mengusik nurani kita: apakah arti kemerdekaan yang sesungguhnya bagi warga di pelosok Pandeglang yang masih harus bertaruh tenaga demi seember air bersih?
Tahun ini, situasi terasa jauh lebih menghimpit. Kemarau panjang yang mengepung Kabupaten Pandeglang selama hampir empat bulan terakhir telah melumpuhkan urat nadi kehidupan warga di beberapa desa di Kabupaten Pandeglang. Sumur-sumur gali warga yang biasanya menjadi penopang utama kini berubah menjadi lubang tanah yang mengering dan retak. Sumber mata air lokal menyusut drastis, bahkan sebagian besar habis sama sekali.
Akibat kemarau yang berkepanjangan ini, krisis air bersih meluas ke berbagai sektor kehidupan:
Krisis Pangan dan Ekonomi: Sawah-sawah warga mengalami puso (gagal panen), sementara ternak kesulitan mendapatkan pasokan air minum dan pakan hijau.
Ancaman Kesehatan dan Sanitasi: Warga terpaksa menghemat air secara ekstrem, yang berdampak langsung pada menurunnya kualitas sanitasi harian dan meningkatnya risiko penyakit kulit serta pencernaan.
Beban Sosial yang Berat: Anak-anak dan para ibu harus menghabiskan waktu bertajuk jam—yang seharusnya digunakan untuk belajar atau produktivitas keluarga hanya untuk mencari atau menunggu antrean air.
Sebagai pihak yang turun langsung mengawal dan menyalurkan distribusi air bersih ke desa-desa terdampak di Pandeglang, saya menyaksikan sendiri betapa getirnya realitas tersebut. Setiap kali armada tangki air kami tiba, barisan jeriken dan ember bekas langsung mengular di bawah terik matahari. Senyum lega warga memang mengembang saat air mengisi wadah mereka, namun di balik rasa syukur itu tersimpan keprihatinan mendalam.
Bantuan air bersih yang selama ini kami salurkan hanyalah pertolongan pertama (first aid). Ini adalah bentuk gotong royong dan kemanusiaan untuk memadamkan dahaga selama dua hingga tiga hari ke depan, bukan solusi mendasar untuk memutus rantai kekeringan yang saban tahun berulang.
Refleksi Hari Kemerdekaan ini harus menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Kemerdekaan yang sejati bukan sekadar bebas dari penindasan fisik, melainkan kemerdekaan dari ketimpangan akses terhadap kebutuhan hidup paling mendasar.
Untuk mengakhiri dahaga panjang di Pandeglang, langkah transformatif jangka panjang harus segera diambil:
- Perluasan Infrastruktur Air Bersih Berkelanjutan: Mempercepat perluasan jaringan perpipaan dan pembangunan sarana air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) yang tahan terhadap dampak kemarau ekstrem.
- Restorasi Lingkungan dan Pemuliaan Air: Melindungi daerah tangkapan air yang tersisa serta menggalakkan teknologi pemanenan air hujan (rainwater harvesting) dan sumur resapan komunitas.
- Manajemen Penanggulangan Bencana Kekeringan: Membangun mitigasi bencana kekeringan yang terintegrasi dari tingkat desa hingga kabupaten, sehingga daerah tidak gagap saat menghadapi siklus kemarau panjang.
Merdeka yang hakiki adalah ketika anak-anak di desa-desa Pandeglang tidak lagi cemas memikirkan besok mandi dengan apa, dan para petani tidak lagi pasrah menyaksikan tanahnya retak dihantam kemarau.
Selama kran-kran di rumah warga belum mengalirkan air yang layak secara mandiri dan berkeadilan, tugas mengisi kemerdekaan di Pandeglang belumlah usai. Kami akan terus berdiri bersama warga menyalurkan bantuan air bersih, seraya terus menagih hadirnya solusi permanen agar warga benar-benar dapat merasakan arti merdeka yang sesungguhnya. Dari Rakyat Indonesia Merdeka..!!!
(Red)
