25.7 C
Pandeglang

Langkah Tenang di Bawah Langit Sudirman: Kepergian Seorang Teladan

Published:

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq
Kematian sering kali datang tanpa mengetuk pintu, membawa pergi seseorang tepat di saat kita baru saja merasa “memilikinya” kembali dalam percakapan yang hangat.

Kabar duka pada Sabtu malam itu bukan sekadar informasi tentang berhentinya sebuah denyut jantung, melainkan sebuah guncangan yang menghentikan langkah saya sejenak.

Kak Babay Sujawandi, Sekretaris Jenderal PB Mathla’ul Anwar, senior saya sejak di PGAN Pandeglang, telah berpulang.

Mengingat beliau adalah mengingat garis takdir yang terus bersinggungan. Kami tumbuh dari rahim almamater yang sama hingga akhirnya dipertemukan kembali dalam pengabdian di Mathla’ul Anwar.

Beliau sebagai Sekjend, dan saya sebagai Ketua Bidang Kaderisasi. Sebuah perjalanan panjang yang kini menyisakan saya dalam kesunyian kontemplasi.

Bayangan saya terbang kembali ke Jumat, 9 Januari 2026. Baru seminggu yang lalu.

Ada sebuah pemandangan unik yang kini terasa seperti perlambang.

Hari itu, kami datang dalam rombongan sekitar 12 orang pengurus. Hampir semuanya mengenakan batik nasional tangan panjang dengan beragam motif dan warna.

Namun, hanya kami berdua—saya dan Kak Babay—yang memilih mengenakan batik organisasi Mathla’ul Anwar. Batik berwarna hijau terang itu membuat kami berdua tampak lebih mencolok dan ‘bersinar’ di antara pengurus lainnya.

Seolah-olah -hanya seolah olah ya- warna hijau itu adalah penegasan identitas bahwa di pundak kami berdua, pengabdian ini sedang dipikul dengan penuh kebanggaan.

Dalam balutan seragam hijau yang sama, kami berjalan kaki dari kantor Kemendikdasmen RI menuju parkiran di mall FX Sudirman, setelah kami berbincang dengan Pak Abdul Mu’ti, Menteri Dikdasmen RI.

Jarak sekitar 500 meter itu terasa begitu singkat karena percakapan kami yang seru tentang masa depan organisasi. Tak ada gurat lelah, tak ada tanda sakit. Wajahnya berseri-seri, bahasa tubuhnya begitu hangat, menunjukkan keakraban seorang kakak kepada adiknya

Di hadapan Menteri Abdul Mu’ti, saya menyaksikan Kak Babay yang gigih. Beliau bicara tentang ribuan madrasah di pelosok desa yang butuh perbaikan, dan tentang guru-guru honorer yang mengabdi tanpa pamrih.

“Ada ribuan madrasah milik kita. Bila mengandalkan kemampuan kita saja, butuh puluhan tahun untuk bisa membangun,” celetuknya.

Ia juga mengundang Pak Menteri untuk hadir di Muktamar XXI April 2026 mendatang.

Siapa yang menyangka bahwa tawa dan semangat di sepanjang trotoar Sudirman itu adalah “hadiah terakhir” dari beliau untuk saya?
Kepergian Kak Babay menyisakan rasa haru yang mendalam jika melihat garis pengabdiannya.

Beliau adalah sosok yang berdiri di garis depan untuk menambal kekosongan, menggantikan Sekjend sebelumnya, almarhum DR. Jihaduddin, yang juga wafat saat menjabat. Kak Babay ditetapkan dalam rapat pleno untuk melanjutkan sisa masa khidmat yang tinggal menghitung bulan.

Tiga bulan lagi menuju Muktamar April 2026, tugasnya seharusnya tuntas. Namun Allah rupanya memanggilnya lebih cepat, tepat sebelum garis finish itu ia injak.

Ketika kabar serangan jantung itu datang di Rabu pagi, dunia seolah melambat. Ada rasa sesal karena saya belum sempat menjenguknya secara langsung di RSUD Banten. Saya sempat punya firasat buruk, namun doa tetap saya langitkan.

Kini, pagi ini, di hadapan jasadnya yang kaku, saya berdiri menyolatkan dan melepasnya ke liang lahat.

Kak Babay pergi setelah memastikan pintu komunikasi dengan pemerintah terbuka luas. Ia pergi dengan meninggalkan estafet yang berat namun mulia.

Kepergiannya mengajarkan saya bahwa pengabdian tidak mengenal kata istirahat. Selamat jalan, Kak Babay. Senior yang tenang, figur yang teduh.

Kini, trotoar Sudirman dan batik hijau itu akan selalu menjadi saksi: bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita menjabat, tapi tentang seberapa terang cahaya yang kita tinggalkan dalam sisa waktu yang diberikan.
(As/Red)

Artikel terkait

Artikel terkait