27 C
Pandeglang

HIMMA Desak Kapolri Copot Kapolda Metro Jaya Pasca Insiden dengan Ojol

Published:

Jakarta, tirasbanten.id – Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA) menyampaikan pernyataan sikap mengecam insiden yang melibatkan aparat kepolisian dan pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta. Menurut organisasi tersebut, peristiwa itu dinilai tidak hanya melukai korban secara fisik, tetapi juga telah menyakiti rasa keadilan masyarakat.

Dalam pernyataannya, HIMMA menilai insiden ini merefleksikan arogansi oknum aparat dan lemahnya pengawasan internal di tubuh kepolisian dalam melindungi masyarakat.

Ketua HIMMA, Ahmad Syafaat, menegaskan bahwa Kapolri harus segera mengambil langkah tegas dengan mencopot Kapolda Metro Jaya. Menurutnya, Kapolda dinilai telah gagal menjaga martabat institusi Polri dan membiarkan praktik ketidakadilan terjadi.

“Kapolda Metro Jaya dinilai sudah kehilangan legitimasi moral untuk memimpin. Kami mendesak Kapolri untuk tidak menutup mata dan segera mengambil tindakan,” tegas Ahmad Syafaat dalam rilis yang diterima pada Kamis (29/8/25).

HIMMA berpendapat bahwa tragedi ini semakin mengaburkan citra Polri yang ingin dibangun sebagai institusi yang presisi—profesional, modern, dan terpercaya. Alih-alih memberikan rasa aman, oknum aparat justru dianggap menciptakan ketakutan dan dianggap sebagai simbol arogansi.

Sebagai bentuk sikap kritis, HIMMA mendesak beberapa hal berikut:

  1. Presiden Republik Indonesia untuk mengevaluasi kinerja Kapolri, yang dianggap lalai dalam membina jajaran Polri.
  2. Kapolri untuk segera mencopot Kapolda Metro Jaya tanpa kompromi sebagai langkah awal pemulihan martabat institusi.
  3. Dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan prosedur operasional aparat di lapangan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang.
  4. Peningkatan transparansi dan langkah nyata untuk mengembalikan kepercayaan publik, bukan sekadar retorika.

HIMMA menegaskan bahwa tanpa langkah tegas dari pimpinan Polri, kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut dapat semakin merosot. Mereka menyatakan akan bersama masyarakat untuk menyuarakan tuntutan ini.

“Polri sejatinya adalah pengayom masyarakat, bukan penguasa. Jika rakyat justru ditindas, kami dari kalangan mahasiswa siap untuk menyuarakan perlawanan,” tutupnya. (Jee/Red)

Artikel terkait

Artikel terkait